sejarah Berdirinya Paroki Salib Suci

 

                Pusat Paroki Cilincing berada di Gereja Salib Suci di jalan Raya Tugu no. 12 RT 003/RW014 Kelurahan Tugu Utara, Kecamatan Koja, Kota Jakarta Utara. Gereja ini sangat terkenal karena dirancang oleh tokoh nasional yang juga seorang Imam Katolik yaitu Romo Y.B. Mangunwijaya.  Ada juga salib yang diletakkan dalam gua di sebelah gua Maria. Salib ini istimewa karena dibuat oleh seorang perampok terkenal yang bertobat tahun 70-an yaitu Ignatius Waluyo alias Kusni Kasdut. Berada di tengah-tengah terminal truk-truk, Gereja Salib Suci begitu megah karena menyajikan keindahan seni yang mengagumkan.  Paroki Cilincing meliputi 3 kecamatan di Wilayah Administratif Jakarta Utara yaitu Koja, Cilincing dan sebagian kecil Kelapa Gading.

                Paroki Cilincing lahir sebagai hasil pemekaran paroki St Fransiskus Xaverius Tanjung Priok. Areanya meliputi daerah Tanjung Priok bagian Timur. Pusat kegiatan pada saat itu di kompleks Angkatan Laut Dewa Ruci. Wilayah ini dikenal sebagai Stasi Timur karena letak geografisnya yang berada di sebelah timur Pelabuhan Tanjung Priok. Stasi Timur meliputi tiga kring besar, yaitu Kring TNI Angkatan Laut Dewa Ruci, Kring Polisi Airud Kebantenan dan Kring TNI Angkatan Darat Yon Air. Ketiga Kring inilah yang menjadi motor penggerak roda kehidupan menggereja di Stasi Timur.

                Pada Tahun 1960 Gereja berhasil mendapatkan hibah tanah milik TNI Angkatan Laut. Tanah ini terletak di antara Komplek AL Dewa Ruci dan Dewa Kembar Jakarta Utara. 

Foto: Romo Bob menghadiri pertemuan Kring

Foto: romo Bob memimpin Ibadat di salah satu kring

Di atas tanah ini rencana akan dibangun komplek persekolahan dan Gereja Katolik. Pada tahun 1964, SD Strada Tunas keluarga Mulia (TKM) I telah berhasil didirikan. Namun ketika gedung SMP mulai dibangun, ternyata sebagian harus dibongkar karena terkena proyek pembangunan jalan raya Cakung-Cilincing. Dengan demikian hilang pula tanah yang direncanakan untuk bangunan gereja. Tanah untuk Gereja tidak mendapat ganti, sedang untuk SMP Strada mendapatkan ganti dari Pemkot DKI. Di atas tanah inilah sekarang berdiri kompleks SMP strada Fransisikus Xaverius  III dan SD Strada TKM II. Dengan ijin Panglima Daerah III, aula SD Strada TKM I dijadikan pusat kegiatan umat, termasuk perayaan Ekaristi bagi umat stasi Timur ini.

               

Foto: ULTAH PAROKI ke 2 di AULA SD strada TKM 1

Foto: Misa di Aula SD Strada TKM 1

Pada Tahun 1960 Gereja berhasil mendapatkan hibah tanah milik TNI Angkatan Laut. Tanah ini terletak di antara Komplek AL Dewa Ruci dan Dewa Kembar Jakarta Utara. Di atas tanah ini rencana akan dibangun komplek persekolahan dan Gereja Katolik. Pada tahun 1964, SD Strada Tunas keluarga Mulia (TKM) I telah berhasil didirikan. Namun ketika gedung SMP mulai dibangun, ternyata sebagian harus dibongkar karena terkena proyek pembangunan jalan raya Cakung-Cilincing. Dengan demikian hilang pula tanah yang direncanakan untuk bangunan gereja. Tanah untuk Gereja tidak mendapat ganti, sedang untuk SMP Strada mendapatkan ganti dari Pemkot DKI. Di atas tanah inilah sekarang berdiri kompleks SMP strada Fransisikus Xaverius  III dan SD Strada TKM II. Dengan ijin Panglima Daerah III, aula SD Strada TKM I dijadikan pusat kegiatan umat, termasuk perayaan Ekaristi bagi umat stasi Timur ini.

Foto: Romo Bob bersama Pengurus Gereja tahun 1979

Paroki Cilincing berada di sebuah kawasan perumahan padat dan kumuh di Jakarta Utara. Banyak kaum marjinal bermukim di kawasan ini, juga lokalisasi PSK Kramat Tunggak berada di kawasan ini. Maka Romo Vincent segera merintis sebuah karya-karya sosial Paroki. Karya-karya sosial ini yang nantinya akan dikenal menjadi karya sosial-sosial khas Paroki Cilincing.  Di tengah kawasan nelayan pantai Cilincing, Rm. Vincent mendirikan Karya Sosial Lumba-Lumba, sedangkan di dekat Lokalisasi didirikan Karya Sosial Magdalena. Pada tahun 1980 penggembalaan umat di Paroki Cilincing diserahkan dari Kongregasi Maryknoll (MM) kepada Kongregasi Misi (CM). Pucuk pimpinan paroki diserahkan Pastor Badhuin kepada Pastor FX Wartadi CM. Pastor Wartadi.

Foto: Pastor Robert F Baudhuin, MM

Foto: Pastor Vincent P cole MM

SEJARAH PEMBANGUNAN GEREJA PAROKI

                Sekitar tahun 1960 Gereja memperoleh tanah hibah milik TNI Angkatan Laut. Di kompleks inilah rencana pembangunan sekolah dan Gereja akan dilaksanakan. Oleh karena terkena proyek pembuatan jalan raya Cakung-Cilincing, maka Gereja tidak bisa dibangun di tanah tersebut. Usaha untuk menemukan tanah bagi pembangunan terus dilakukan, hingga didapatkan sebidang tanah di Kampung Mencle – Marunda seluas 2,8 hektar. Tanah tersebut dibeli oleh Pater Paap, SJ, tetapi tanah inipun diambil alih oleh pemerintah. Tanah tersebut digunakan untuk perluasan pelabuhan PPL Marunda yang sekarang lebih terkenal dengan sebutan Kawasan Berikat Nusantara (KBN) Marunda. Tahun 1982 tanah ini diambil alih pemerintah dengan mendapat ganti rugi. Kemudian diperoleh tanah berbentuk (L) seluas 6.680 meter persegi di Kampung Bulak, Tugu, di depan lokalisasi WTS Kramat Tunggak. 

Foto: Romo Wartadi Tahun 1986 

Foto: Keadaan Tanah Jl.  Tugu No. 8 Sebelum dibeli

Tanah inipun terpaksa harus ditinggalkan karena akhirnya diketahui bahwa menurut rencana tatakota tanah ini akan terbagi 4 oleh jalan raya, sehingga gereja tak mungkin dibangun disitu. Secercah harapan muncul pada pertengahan 1978, tepatnya pada tanggal 29 Juni 1978 seorang agen titipan barang menawarkan tanahnya seluas 7.980 meter persegi. Tanah ini berlokasi di jalan Tugu No. 8 (Sekarang Jalan Raya Tugu no. 12) Jakarta Utara. Tanah ini segera di beli oleh Keuskupan Agung Jakarta. Ternyata lokasi ini sangat tepat untuk membangun sebuah Gereja, bukan saja karena letaknya di pusat Paroki tetapi jugakarena latar belakang sejarahnya. 

Berdasarkan cerita turun-temurun, Gereja Tugu pertama dan kedua dibangun di atas tanah ini. Di lokasi ini juga terdapat tiga makam rohaniwan, dengan salib kayu di atasnya. Penemuan tiga makam misionaris ini berdasarkan keterangan yang memastikan keberadaanya di tanah ini.

  1. Pastor HJW Boelaars, OFM Cap yang kebetulan bertamu, menjawab Pastor Bob F. Baudhuin mengenai cerita yang beredar tesebut. Beliau mengatakan bahwa memang benar pada lokasi ini terdapat makam beberapa rohaniwan, sambil menunjuk lokasi tiga makam itu.

  2. Ada juga “Orang Pintar” yang bertamu menunjukkan lokasi makam sama seperti yang ditunjuk Pastor HJW Boelaars, padahal keduanya belum pernah bertemu.

  3. “Orang Pintar” yang lain mengatakan hal yang serupa dan menunjuk di tempat yang sama. Di atas salah satu tempat yang di tunjukkan itu, pernah dibangun Goa Maria yang indah. Saat ini tempat itu menjadi tempat parkir motor disebelah Utara gedung paroki.

Siapa para rohaniwan yang dimakamkan, hingga kini masih belum diketahui identitasnya. Menurut perkiraan apabila mereka adalah imam Katolik, ada kemungkinan mereka adalah Pastor Aegidius De Abreu seorang Jesuit Portugis yang dimakamkan di Jakarta pada tahun 1618, atau Pastor Andrade OFM yang dimakamkan di Jakarta pada tahun 1754.Tentu bukanlah sebuah kebetulan jika Gereja Paroki Salib Suci dibangun di jalan Tugu No.8.  Umat Paroki Cilincing- Gereja Salib Suci yakin, bahwa Tuhan sendirilah yang memilih tempat ini dan telah mengiring anak-anak-Nya kembali ke tempat yang sejak semula telah menjadi rumah Tuhan.

Setelah tanah dibeli maka para pastor segera pindah ke tempat tersebut dan menempati sebuah bangunan bekas kantor perusahaan. Bangunan tersebut dipugar agar dapat digunakan sebagai pastoran dan kapel kecil untuk misa harian. Dewan Paroki yang telah disahkan oleh Bapa Uskup tahun 1978 mulai membicarakan untuk membangun sebuah gereja yang ideal di daerah miskin seperti Cilincing.  Maka diselenggarakanlah seminar dengan tema tersebut pada bulan Februari 1978. Pihak Keuskupan diundang sebagai pembicara. Sebagai tindak lanjut seminar tersebut, maka  dibentuklah sebuah panitia kecil yang akan merencanakan pembangunan gereja. Dana yang digunakan untuk membangun gereja menggunakan dana paroki yang ada.

Foto: Bekas Kantor Garasi Yang Dijadikan Pastoran di Jalan Tugu No.8

Foto: Suasana Seminar

Setelah Panitia Pembangunan Gereja terbentuk, Romo Bob Baudhuin mendengar bahwa Romo Mangunwijaya adalah ahli dalam arsitektur gereja. Maka Romo Bob meminta Romo JB. Mangunwijata PR, untuk merancang gereja yang dimaksud. Ijin pembangunan gereja mulai diproses dan diurus. Setelah meninjau sendiri lokasi pembangunan gereja dan berbicara dengan pihak keuskupan, Romo Mangunwijaya membuat rancangan gereja tersebut. Tetapi gambar rancangan ini ditolak oleh Direktorat Pemugaran dan Purbakala. Lagipula konstruksi bangunan yang menggunakan banyak bahan dari besi dinilai kurang cocok untuk daerah pantai seperti di Tugu karena akan cepat rusak karena berkarat. Oleh karena kendala ini pembangunan gereja menjadi tertunda. Karena kebutuhan tempat ibadat semakin mendesak dengan perkembangan jumlah umat yang semakin bertambah. Maka diputuskanlah untuk dibangun gereja sementara di lokasi ini. Pembangunan Gereja sementara ini dilakukan secara gotong royong oleh umat dengan kerja bakti. Pada tahun 1978 berdirilah sebuah Gereja yang berbentuk semacam pendopo untuk kegiatan peribadatan umat. Belum selesai gereja dibangun, penggembalaan umat di Paroki Cilincing diserahkan dari Kongregasi Maryknoll (MM) kepada Kongregasi Misi (CM) pada 1980. Pucuk pimpinan paroki diserahkan Pastor Baudhuin kepada Pastor FX Wartadi CM. Pastor Wartadi yang kemudian melanjutkan pembangunan gereja paroki.

Foto: Membangun Gereja sementara tahun 1978

Foto: Romo Wartadi memimpin Misa Natal Tahun 1981

Foto: Gereja sementara yang dibangun tahun 1978

Foto: Romo Bob mempimpin Upacara Perkawinan

Akhirnya gambar rancangan dengan beberapa perubahan diajukan lagi oleh Romo Mangunwijaya. Setelah Pemerintah tidak lagi mempersoalkan rancangan tersebut, maka dimulailah proses pembangunan gereja paroki. Namun masalah teknis konstruksi bangunan yang sangat rumit ini belum dapat dipecahkan. Di tengah-tengah kebingungan ini, hadirlah seorang konsultan dari PT. Wiratman & Associates yaitu Bapak Wiratman membantu memecahkan persoalan tersebut. Bapak Wiratman berhasil menghitung konstruksi gereja dengan bantuan komputer di kantornya. Pada tanggal 28 Oktober 1982 ditanda tangani kontrak pembangunan gereja ini dengan pelaksana PT. GUNA BANGUN, maka tanggal 1 Nopember 1982 dimulailah pembangunan gereja ini.

Foto: Peletakan batu pertama pembangunan gereja salib suci tahun 1982

Kontraktor lain yang juga ambil bagian dalam pembangunan gereja, antara lain:

  1. PT CITATAH – Pelaksana pekerjaan marmer altar

  2. PT. CITRA – Pelaksana pekerjaan teralis dan pembesian bangku

  3. PT. TANJUNG JATI dan PT. ANDYKA PUTRA – Pelaksana kayu bangku

  4. PT. ICI dan PT. GANESHA PUTRA SIWA – melaksanakan pengecatan

  5. PT. WIJAYA – Sebagai pelasana pekerja taman.

Setahun kemudian bangunan utama yang sulit itu selesai dibangun. Walaupun masih baru atap dan lantai semennya, gereja ini digunakan umat untuk perayaan Natal tahun 1983. Umat merayakan Natal di Tempat Ibadat mereka yang baru dengan gembira. Ketika pekerjaan dilanjutkan seperti biasa, umat kembali merayakan Ekaristi di gereja lama lagi. Paskah tahun 1984 perayaan ekaristi kembali dilangsungkan di gereja baru yang tinggal penyelesaian dan pengisian ini.  Sejak itu perayaan Ekaristi pada hari Minggu selalu dirayakan di gereja baru. Setelah hampir dua tahun, maka diadakan pemberkatan gedung Gereja dan Pastoran yang baru selesai dibangun. Walaupun masih banyak yang perlu dibenahi dan diselesaikan, tetapi umat menyambut persitiwa yang penuh rahmat ini.

Foto: Misa Natal 1983 di Gereja tanpa dinding yang belum sepenuhnya rampung

Foto: Ibadat Jumat Agung 1981 Di Gereja Lama

Foto: Pembangunan Gua Maria

PEMUGARAN GEREJA PAROKI

                Seiring berjalannya waktu, keadaan bangunan Gereja Salib Suci mulai rusak. Atap gereja bocor dan ketika hujan datang, air menetes dari atap dan membasahi bagian dalam gereja. Begitu juga pada musim kemarau gereja penuh dengan debu. Tiadanya dinding gereja menyebabkan debu leluasa masuk ke dalam gereja. Cilincing telah berkembang menjadi kawasan industri. Jalan di depan gereja sering dilewati truk-truk besar kontainer.

                Kondisi yang memprihatinkan ini mendorong, Rm. Antonius Wahyuliana CM, pada tahun 2006 berinisiatif untuk memugar gedung gereja agar tidak semakin rusak dan lebih memadai sebagai tempat ibadat. Maka dimulailah pekerjaan renovasi dengan memugar bangunan gereja. Kendala dana diatasi dengan memulai pemugaran secara bertahap. Rm. Wahyu mulai dengan pekerjaan skala kecil misalnya memperbaiki gudang gereja dengan dibantu empat tukang bangunan.  Para tukang bangunan ini dikontrak selama tiga tahun untuk mengerjakan renovasi gereja.

                Tanggapan umat terhadap pemugaran gereja semkain baik, para donatur semakin banyak yang memberikan dananya untuk pemugaran gereja. Maka dengan dibantu oleh Pastor Rekan Rm. Martinus Aluysius Paryanto, Rm. Wahyu semakin mematangkan rencanya untuk merenovasi gereja. Panitia Renovasi Gereja dibentuk pada tahun 2007. Arsitek Yori Antar diundang untuk membantu merancang ulang desain gereja. Pada 2007 bangunan gereja diambrukkan seluruhnya dengan menyisakan empat pilar utama berbentuk kubah. Renovasi dilakukan bertahap. Sejumlah elemen bangunan disesuaikan ulang demi mengikut iperkembangan zaman. Namun ada yang tidak berubah dari desain baru tersebut yaitu warisan spiritualitas Romo Mangun tentang gereja yang terbuka, mandiri, dan partisipatif.

Sementara pembangunan berlangsung, umat melakukan berbagai kegiatan penggalangan dana renovasi gereja. Dana yang terkumpul saat itu mencapai Rp 2 miliar. Ada penjualan kupon undian, pertunjukan operet, hingga malam dana yang diisi sejumlah artis seperti Benny Panbers Pajaitan, Vicktor Hutabarat, Diana Nasution, Maribeth, Ronny Siantury, dan Liza A Riyanto di Aula Gereja Salib Suci. Pada 2011 di usia Paroki Cilincing yang ke-34 renovasi gedung gereja selesai. Gereja Salib Suci tampak lebih asri. Debu dihambat masuk dengan menggantikan teralis menjadi pintu yang dapat digeser agar gereja bisa ditutup saat tidak ada misa. Pendingin ruangan pun dipasang agar ruangan dalam gereja menjadi sejuk, dengan demikian umat dapat mengikuti misa dengan nyaman.

                Pada November 2016 paroki kembali bekerja dengan merenovasi bagian depan Gereja Salib Suci dan pastoran. Pastoran mulai direnovasi pada bulan Januari 2017. Gedung gereja boleh berubah. Tidak ada lagi dinding-dinding yang terbuka. Namun spiritualitas Gereja Tanpa Dinding tetap hidup dan menjadi semangat dalam mewartakan kasih Kristus pada semua orang.

SPIRITUALITAS GEREJA TANPA DINDING

                Apa yang khas dari Gereja Salib Suci, Cilincing, Jakarta Utara? Gedung gerejanya. Gedung gereja itu bukan sekadar bangunan tempat ibadah, tapi refleksi atas spiritualitas yang menghidupi semangat iman umat katolik di tempat itu. Gedung Gereja Salib Suci sering disebut sebagai Gereja Tanpa Dinding atau Gereja Transparan. Secara harafiah dapat diartikan Gereja Salib Suci memang dirancang tanpa dinding oleh Rm. Mangunwijaya. Di Gereja tersebut hanya ada teralis-teralis besi. Namun di balik wujud bangunannya yang tidak memiliki dinding, Romo Mangun meletakkan makna inkulturasi yang amat dalam.

Foto: Gereja Tanpa Dinding Yang Siap Diberkati

Romo Mangun menggunakan konsep pendopo dalam tradisi masyarakat Jawa pada Gereja Tanpa dinding ini. Beberapa makna pendopo dalam konteks iman Katolik pada Gereja Tanpa Dinding adalah:

  • Dalam tradisi masyarakat Jawa, pendopo merupakan bagian dari bangunan joglo (rumah adat Jawa). Bagian bangunan ini adalah tempat untuk melakukan sesembahan para kawula maupun rakyat ke rajanya. Kawula atau rakyat yang ingin bertemu dan melakukan sembah bakti pada sang raja dilakukan di Pendopo ini. Bentuk pendopo pada Gereja Tanda Dinding ingin menggambarkan Gereja sebagai tempat perjumpaan antara Tuhan dan umat-Nya terutama pada perayaan Ekaristi.

  • Pendopo selalu ditopang oleh empat pilar atau disebut soko guru. Empat pilar soko guru melambangkan kekuatan, kekokohan, dan kekuasaan. Soko Guru Gereja adalah Yesus Kristus yang merupakan Kabar Gembira (Injil) Allah bagi manusia. Empat Pilar bagai Gereja Tanpa Dinding melambangkan keempat Injil yang merupakan kehadiran Sabda Tuhan bagi manusia.

  • Empat Pilar pada Pendopo juga melambangkan empat arah mata angin (Utara, Timur, Selatan dan Barat). Di bagian atas pilar Gereja, terdapat bentuk payung yang melambangkan juga empat penjuru mata angin. Itulah kehadiran Roh Kudus bagi Gereja. Kehadiran Roh Kudus bagaikan “Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh. (Yoh 3:8). Lidah-lidah api di atas pilar melambangkan peristiwa Pantekosta. Pada siang hari, pertemuan empat pilar tersebut membentuk salib bercahaya, tepat di titik tengah gereja. Salib adalah tanda kemenangan Kristus. Ia adalah pusat iman, terang, dan cahaya dunia.

  • Pendopo pada rumah Jawa terbuka tanpa pembatas pada keempat sisinya, hal ini melambangkan sikap keterbukaan pemilik rumah terhadap siapa saja yang datang. Itulah Gereja Katolik yang terbuka bagi siapapun

  • Pendopo biasanya dibangun lebih tinggi dari halaman, hal ini dimaksudkan untuk memudahkan penghuni rumah menerima tamu, bercakap-cakap sambil duduk bersila di lantai beralas tikar sesuai tradisi masyarakat Jawa. Tradisi yang mencerminkan suasana guyup, akrab dan rukun. Keberadaan Pendopo mencerminkan keguyuban dalam gaya hidup masyarakat Jawa. Pendopo tidak hanya sekadar sebuah tempat tetapi mempunyai makna yang lebih mendalam, sebagai tempat untuk mewujudkan kehidupan yang guyub, rukun, relasi akrab antara penghuni rumah dengan tamu, kerabat dan masyarakat sekitarnya. Jadi pendopo menjadi lambang hidup Gereja sebagai Persekutuan yang hadir dalam dan bagi dunia.

  • Pendopo juga memberikan arti lain yaitu gereja yang bersahaja, terbuka, akrab dengan alam. Konsep arsitektur gereja ini adalah terbuka, bersahaja, akrab dengan lingkungan.

Keramik, bangku umat, serta marmer panti imam dipasang dengan diarahkan pada suatu titik yaitu altar tempat perjamuan Tuhan. Altar yang merupakan tempat seluruh kurban diri kita dipersembahkan dan disatukan dengan kurban Kristus di Salib. Meja altar yang asli, merupakan rancangan Romo Mangun, terbuat dari batang kelapa (gelugu) berbentuk kayu yang bertumpuk-tumpuk, melambangkan kesetian iman Abraham dengan mempersembahkan kurban bakaran kepada Allah dan mengantar hidupnya dekat kepada Allah.  Meja altar tersebut saat ini dipakai di Gereja St. Maria Lourdes, desas Sumber Kec. Dukun- Muntilan, sedangkan di Gereja Salib suci menggunakan meja altar yang lebih besar dengan ornamen “Perjamuan Terakhir” hasil karya Bapak An. Sunarto dari Bojonegoro-Jawa Timur, yang mulai digunakan saat Romo Karsiyanto, CM menjadi Pastor Paroki. Teralis besi yang menjadi dinding sekeliling Gereja, tersusun rapi dan membentuk gambaran pohon-pohon kehidupan, sebagaimana dilukiskan dalam Kitab Yeremia. Gereja bukanlah sekedar bangunan kosong belaka, tetapi menjadi sumber yang memancarkan daya kekuatan yang menyegarkan ranting hidup kita yang mengering.

Foto: teralis besi yang menggambarkan pohon kehidupan

Foto: Pemasangan keramik lantai, bangku umat dan marmer panti imam yang mengarah ke altar

Foto: Arsitektur Bagian Dalam gereja Tanpa dinding

RIWAYAT NAMA GEREJA SALIB SUCI

                Meskipun tidak ditemukan dokumen tertulis yang menyatakan alasan Geraja Paroki Cilincing ini diberi nama Paroki Salib Suci, tetapi dari beberapa narasumber dan saksi sejarah, didapatkan latar belakang yang dapat dijadikan alasan pemilihan “Salib Suci” nama gereja Paroki.

  1. Pada saat itu umat Katolik yang berprofesi sebagai pelaut, mempunyai kebiasaan untuk membawa salib saat hendak berlayar. Salib dipercaya akan membawa perlindungan dan menjaga keselamatan para pelaut dalam menghadapi tantangan badai di laut.

  2. Ketika memulai karya-karya sosial di pesisir pantai Cilincing dan lokalisasi Kramat Tunggak. para misionaris Maryknoll bersama beberapa umat, mendapat tantangan dari masyarakat setempat. Isu Kristensiasi menjadi alasan penolakan kehadiran karya-karya sosial Paroki tersebut. Seperti juga para pelaut, para misionaris dan umat membawa salib agar Tuhan selalu menyertai mereka dalam melaksanakan karya-karya sosial ini. Justru tantangan yang dihadapi menjadi panggilan untuk menancapkan Salib semakin dalam di daerah tempat mereka berkarya. Akhirnya berkembanglah usulan untuk nama Paroki mereka yaitu “Paroki Salib” atau “Gereja Salib”.

  3. Pastor HJW Boelaars, OFM Cap, yang dikaruniakan indra keenam menuturkan bahwa tempat Gereja paroki berdiri (Jl. Tugu no.8) adalah petilasan GerejaTugu pertama yang didirikan pada tahun 1678 dan Gereja kedua yang dibangun tahun 1738 oleh Misionaris Portugis. Selain itu Dia menjelaskan bahwa di lokasi itu terdapat tiga makam misionaris yang ditandai dengan Salib di atasnya. Salah satu Salib di makam itu, selanjutnya diganti dengan Salib yang berukuran lebih besar (kurang lebih 2 m). Saat ini Salib itu telah dipindahkan di samping Goa Maria Salib Suci yang dipugar oleh Romo Paulus Aryono, CM ketika beliau memipin Paroki ini. Sementara bekas tempat Salib itu dibangun tempat lapangan parkir mobil.

Dari ketiga kisah yang beredar itulah nama “Salib” menjadi nama yang pas sebagai Nama Gereja Paroki. Dalam perkembangannya, Pastor Bob menambahkan kata Suci agar Nama Gereja mempunyai keterkaitan sejarah Gerejawi daripada hanya berlatarb elakang pengalaman-pengalaman iman umat. Penambahan kata “Suci” menghubungkan Sejarah Gerejawi yaitu penemuan salib Yesus oleh Santa Helena, ibu Kaisar Romawi Konstantinus, ketika beliau berziarah ke Yerusalem pada tanggal 18 Agustus 320. Sejarah mencatat bahwa setelah penemuan salib Yesus itu oleh Santa Helena, sebuah basilika didirikan oleh Kaisar Konstantinus di atas Makam Kudus Yesus di Yerusalem. Basilika itu ditahbiskan pada tanggal 14 September 335 dengan sangat meriah dan khidmat. Pentahbisan tersebut dirayakan oleh para uskup yang baru selesai mengikuti Konsili Tirus. Sehari setelah penahbisan basilika tersebut, kayu Salib Suci diperlihatkan kepada umat di Yerusalem.

                Mengenai Kaisar Konstantinus dan Salib Suci terdapat juga legenda yang mengisahkannya. Pada tahun 312, Maxentius yang menguasai Italia menyerang Konstantinus. Dalam kegentingan ini, Konstantinus mengalami suatu penglihatan ajaib: sebuah salib tampak di langit dengan pancaran cahaya yang berkilau. Pada Salib ajaib itu terpampang tulisan Yunani ini: “EN-TOUTOI-NIKA” yang artinya “Dalam tanda ini engkau akan menang!” Konstantinus yakin bahwa Tuhan menghendaki dia bersama pasukannya bertempur dengan memakai tanda itu. Segera ia memerintahkan seluruh pasukannya berperang di bawah panji Salib Suci. Konstantinus menang mutlak atas musuhnya Maxentius dan memasuki kota Roma dengan jaya. Konstantinus bersama pasukannya dielu-elukan oleh seluruh umat Kristiani yang sebelumnya dianiaya oleh bangsa Romawi. Salib Suci menjadi tanda yang mengarahkan, meneguhkan, memberi kekuatan, dan keselamatan dalam menghadapi badai kehidupan. Penyertaan Salib Suci secara nyata yang dialami oleh Umat Katolik di Paroki Cilincing. Maka Salib Suci dipilih untuk menjadi Nama Gereja Paroki Cilincing, yang pesta namanya diperingati setiap tanggal 14 September.