KARYA SOSIAL ATMABRATA

Atmabrata merupakan salah satu karya sosial Vinsensian di paroki Cilincing yang sudah dikenal secara luas oleh warga Jakarta.  Yayasan ini merupakan kelanjutan dari Proyek Pelita Kasih Paroki Santo Fransiskus Xaverius yang kemudian berdiri sendiri menjadi Yayasan Atmabrata sejak tahun 1981. Yayasan Atmabrata bernaung di bawah Paroki (PGDP) Cilincing. Yayasan ini pada awalnya memberikan bantuan bagi anak-anak yang tidak mampu dengan tidak memandang suku, golongan ataupun agamanya untuk memperoleh pendidikan yang memadai. Bantuan pendidikan yang memadai diberikan dalam bentuk uang tunai setiap bulan. Namun demikian agar anak-anak dapat bersekolah dengan baik, banyak hal lain yang juga diperhatikan antara lain kesehatan, bimbingan belajar dan sebagainya. Yayaan Atmabrata mempunyai banyak anak asuh, salah satu kegiatan rutin yang dilakukan adalah mengunjungi keluarga-keluarga anak asuh. Usaha peningkatan gizi warga juga dilakukan bekerjasama dengan aparat desa setempat

Foto: Papan Nama Atmabrata

Karya sosial terus berjalan baik sampai pada tahun 1996. Peristiwa banjir besar yang melanda sebagian besar  Jakarta pada Januari-Februari 1996 dan kerusuhan yang terjadi pada peristiwa Kudatuli tanggal 27 Juli 1996 menyebabkan kegiatan karya sosial ini berhenti. Usaha untuk menghidupkan karya sosial ini dalam skala kecil masih tetap dilakukan. Namun demikian usaha ini tidak berlangsung lama. Peristiwa Kerusuhan Mei 1998 yang terjadi di jakarta menyebabkan kegiatan-kegiatan karya sosial yang mulai dirintis tahun 1979 ini benar-benar berhenti.

SEJARAH BARU ATMABRATA

Pada tahun 2010 oleh Rm. Antonius Wahyuliana, CM, pastor Paroki cilincing saat itu, kembali menghidupkan karya sosial paroki untuk orang miskin dengan mendirikan  “Atmabrata”. Kilinik Kesehatan yang sudah lama tidak digunakan di Jalan Cilincing Kelapa dipakai sebagai pusat pelayanan Atmabrata. Bruder Petrus Partono dipanggil untuk menangani karya baru ini. Nama Atmabrata sendiri berarti “jiwa yang hening, jiwa yang berlaku tapa, jiwa yang bergerak dalam keheningan”. Melalui nama ini Atmabrata diharapkan dapat menjadi Oase Rohani bagi setiap orang.  Karya pelayanan bagi orang miskin ini bukan saja memberikan tempat bagi orang untuk melayani orang miskin, tetapi juga menjadi tempat perjumpaan dengan Tuhan sendiri. Tuhan telah mensabdakan Orang Miskin sebagai Pusat Kehadiran Kerajaan Allah bagi dunia. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku (Mat: 25:40).

Foto:  Kunjungan  Uskup Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo
di salah satu rumah pelayanan Atmabrata

Bruder Petrus mengawali karya ini pada bulan Maret 2010. Karya awal yang dirintis adalah mengumpulkan anak-anak prasekolah atau anak-anak TK untuk diberi pendampingan belajar. Karya pendampingan ini menjadi awal karya pertama Atmabrata yaitu “Sekolah Empang”. Karya yang lain adalah program pendampingan masyarakat dengan membantu masyarakat yang ada di kampung Sawah Cilincing. Karya Atmabrata dibuka secara resmi pada tanggal 7 Agustus 2010 dengan misa pembukaan pertama oleh Rm. Antonius Wahyuliana, CM. Misa Pembukaan dilakukan di Sekolah Empang. Sekolah Empang inilah yang menjadi embrio lahirnya dua Sekolah lain yaitu Sekolah Kelapa Dua dan Sekolah Bambu yang difungsikan juga sebagai Taman Bacaan. Sekolah-sekolah Sosial Atmabrata ini sangat membantu masyarakat miskin untuk mendapat pendidikan formal yang layak. Dengan hanya membayar uang sekolah Rp 5.000 per bulan serta uang pangkal Rp. 50.000, anak-anak sudah mendapatkan fasilitas pendidikan seperti seragam, buku, alat tulis, tambahan gizi serta kebutuhan-kebutuhan pendidikan lain.

Karya-karya Sosial pendampingan belajar bagi anak-anak ini menjadi awal berkembangnya karya-karya Atmabrata yang lain.  Pada Tahun 2014 dimulailah karya pelayanan bagi lansia. Berawal dari sharing seorang umat mengenai banyaknya lansia di sekitar rumah Atmabrata yang hidup tidak layak dimulailah karya ini. Karya pelayanan lansia diawali dengan mengunjungi lansia-lansia miskin dan mengantar makan siang ke rumah mereka. Dari semula yang hanya belasan akhirnya berkembang menjadi sekitar dua ratusan lansia yang dilayani. Seiring berjalannya waktu ditemukan kasus di mana ada lima lansia yang miskin masuk Rumah Sakit.  Tiga di antara Lansia tersebut tidak punya rumah. Akhirnya ditampunglah para lansia tersebut di Atmabrata. Kasus ini menyadarkan akan pentingnya mendirikan sebuah rumah untuk menampung para lansia yang tidak punya rumah dan keluarga. Sampai sekarang sudah ada 28 lansia tanpa keluarga yang tinggal di rumah Pelayanan Lansia. Dengan melibatkan para Donatur Atmabrata akhirnya didirikanlah Rumah Pelayanan Lansia pada tahun 2014. Sekarang Atmabrata sudah mempunyai 2 rumah lansia. Rumah Lansia pertama terletak di Jalan Cilincing Kelapa dan Rumah Lansia II di Jalan Kebantenan 2. Selain lansia yang ada di Rumah Lansia,  Atmabrata juga melayani para lansia dari keluarga-keluarga miskin dari masyarakat sekitar. Sampai sekarang ada 88 lansia yang dilayani.

Perkembangan Atmabrata selanjutnya adalah mendirikan Klinik yang dinamakan Klinik Sosial “5000”. Klinik ini untuk membantu masyarakat sekitar yang kesulitan mendapatkan pelayanan kesehatan dengan harga yang terjangkau. Dinamakan Klinik 5000 karena dengan membayar Rp. 5.000, masyarakat sudah mendapatkan pelayanan kesehatan seperti Obat-obatan, dokter dan pelayanan kesehatan lainnya. Untuk pengembangan Klinik Sosial, Atmabrata bekerja sama dengan yayasan Ar-Rahmad. Kerjasama ini menjadi jalan untuk menjalin kerjasama antar agama dalam membantu orang-orang miskin dan berkekurangan.

Karya  pelayanan Atmabrata lainnya adalah Balai Latihan Kerja (BLK). Balai Latihan kerja ini didirikan bekerja sama dengan Rotary Club Menteng. BLK melatih orang dewasa yang berumur 17-24 tahun. Mereka diajari untuk dituntun untuk menekuni pekerjaan yang mereka inginkan. Ada empat volunter dari Prancis yang dititipkan oleh Rm. Andang untuk mengembangkan BLK Atmabrata. Melalui BLK ini diharapkan anak-anak muda akan tumbuh menjadi seorang yang berkarakter, tangguh, tahan banting, mempunyai kemauan yang keras serta siap kerja.

Foto: Anak-anak di BLK

Karya terakhir yang sekarang sedang dikembangkan adalah rumah penampungan bagi wanita yang  di luar nikah dan ditolak oleh keluarganya. Sampai sekarang sudah ada 7 orang yang ditampung.

Atmabrata sendiri mempunyai 35 orang karyawan. Mereka ditempatkan di setiap bidang karya yaitu di Klinik, pendidikan, lansia, BLK, dan kantor Atmabrata. Atmabrata juga menjalin hubungan kerjasama dengan instansi lain seperti NJO Francis untuk pengembangan BLK, Ar-Rahmad untuk pengambangan Klinik, Rumah Hamil dengan Suster OP, dan semua itu dibawah pengawasan Atmabrata. Kemudian di setiap RW di wilayah pelayanan Atmabrata memiliki masing-masing 5 orang kader untuk menangani lansia luar.

KARYA-KARYA KARITATIF ATMABRATA

Hingga pada tahun 2021 Atmabrata semakin berkembang dan eksis. Keberadaannya semakin dikenal oleh masyarakat luas. Dapat dilihat dari karya-karya yang berkambang sekarang.  

Kegiatan rutin dan non¬rutin yang dilaksanakan Karya Sosial Atmabrata, antara lain :

  1. Pendidikan Pra Sekolah dan bimbingan belajar

Pendidikan Pra Sekolah (TK) di Atmabrata merupakan kegiatan pokok yang bersifat rutin. Karya Sosial Atmabrata berkarya di empat lokasi sekolah. Pertama adalah sekolah empang di Kampung Sawah dengan jumlah murid mencapai 100 anak, kemudian sekolah taman bacaan di Bulak Cabe dengan 100 anak murid, lalu sekolah bambu juga dengan sekitar 100 murid, dan sekolah kelapa dua yang memiliki sekitar 100 murid. Dengan sekitar 400 anak murid dan belum termasuk peserta bimbingan belajar serta empat lokasi pelayanan, Atmabrata telah menjadi sebuah organisasi yang semakin kompleks. Atmabarata memiliki delapan orang tenaga pengajar untuk mencapai tujuan proses belajar mengajar. Hampir semua lulusan dari TK Atmabrata yang mendaftar ke sekolah dasar baik negeri maupun swasta dapat diterima karena telah mampu membaca, menulis, dan berhitung sesuai persyaratan.

Foto: Kegiatan bimbingan anak-anak

2. Rumah Pangan Lansia

Di lingkungan keluarga yang kurang mampu, kondisi para lansia sungguh sangat memperihatinkan. Jangankan memberi makan yang layak, sekadar memberi perhatian saja tidak. Untuk itu Atmabrata secara rutin memberikan bantuan pangan berupa makanan lengkap (dengan nilai gizi) seminggu dua kali. Lebih dari 100 orang lansia merasa gembira setiap kali mereka datang ke rumah Atmabrata bukan semata karena adanya makanan tetapi karena mereka masih mendapat perhatian dari orang lain. Mereka juga akan membawakan makanan tersebut untuk teman¬teman lansia mereka yang tidak dapat berjalan lagi. Kegiatan rumah pangan lansia dibantu oleh Ibu¬ibu pengurus RT/RW setempat.

Foto: Para lansia di rumah lansia II

 3. Pelayanan Kesehatan

Pelayanan kesehatan di Atmabrata dibagi menjadi dua. Pertama, pelayanan kesehatan di lokasi, dimana walaupun belum berbentuk klinik formal, orang¬orang yang mengalami keluhan sakit ringan dapat diperiksa dan diberi obat. Lokasi klinik Atmabrata ada di rumah Atmabrata di Kelapa Dua dan di Kampung Sawah. Kedua, pelayanan kesehatan dengan membantu orang¬orang sakit yang harus dirawat di rumah sakit. Bentuk bantuan tersebut meliputi transportasi, pengurusan administrasi (SKTM atau Kartu GAKIN), bantuan biaya pengobatan, dan sebagainya. Atmabrata memfokuskan pelayanan kesehatan ini untuk anak- anak dari keluarga miskin.

Foto:  Pelayanan kesehatan di rumah lansia I

 4. Koperasi Simpan Pinjam

Koperasi simpan pinjam di Atmabrata difokuskan untuk melayani kebutuhan pendidikan anak, seperti membayar tunggakan SPP dan untuk uang pangkal.

 5. Produksi Tas Daur Ulang

Tas daur ulang memanfaatkan limbah bekas kemasan sabun/deterjen isi ulang. Kegiatan produksi tas daurulang ini melibatkan ibu¬ibu warga sekitar rumah atmabrata.

 6. Bantuan Beasiswa

Bantuan beasiswa diberikan secara tunai kepada anak¬anak yang kurang mampu yang berada di sekitar lokasi pelayanan Karya Sosial Atmabrata.

 7. Taman Bacaan

Melengkapi taman bacaan yang sudah ada sebelumnya di Bulak Cabe, tahun 2011 Atmabarata membuat dua taman bacaan baru, yaitu di rumah Atmabrata dan di Kampung Sawah (satu lokasi dengan sekolah empang).

Menurut Bruder Petrus, tidak ada pengalaman duka dalam setiap pelayanan, apabila segala sesuatu yang dilakukan, ditangani dengan serius dan penuh cinta. Karya-karya yang dikerjakan sebagai bagian dari panggilan akan mendatangkan buah-buah iman bagi diri sendiri dan sesama.  Kesulitan dan tantangan berupakan bagian dari dinamika merupakan bagian dari hidup panggilan. Contohnya, Sekolah milik Atmabrata pernah ditutup, kemudian dibuka kembali karena warga yang menyekolahkan anaknya disana melakukan protes.

Kemudian, BLK juga pernah didemo oleh beberapa orang yang tidak suka, dianggap ingin mengkristenisasi. Peristiwa-peristiwa semacam ini menjadi tantangan bagi Atmabrata untuk semakin menghadirkan Tuhan bagi dunia melalui orang-orang miskin yang dilayaninya.