BRUDER PETRUS PARTONO, PSS

RASUL VINSENSIAN DI PESISIR JAKARTA

PETRUS 01.jpg

Foto: Bruder Petrus Partono, PSS

Bruder Petrus Partono nama yang  tidak asing lagi bagi umat Paroki Cilincing. Bruder Petrus merupakan sosok dibalik berkembangnya salah satu karya sosial karitatif di Paroki Cilincing yaitu karya pelayanan Atmabrata. Bruder Petrus lahir pada 24 Februari 1976 di Klaten dari sebuah keluarga sederhana. Ayah Bruder Petrus adalah seorang karyawan dan Ibunya seorang pedagang. Beliau merupakan anak bungsu dari lima bersaudara. Teladan Sang Ibu yang sering berbagi dengan membantu mereka yang berkesusahan tertanam dalam diri Bruder dan  benih panggilan dalam dirinya.  Setelah menyelesaikan pendidikan SMA Bruder Petrus masuk Seminari Wacana Bhakti Keuskupan Agung Jakarta.  Selepas dari Seminari Bruder Petrus bergabung dengan ALMA (Asosiasi Lembaga Misionaris Awam). Institut Sekulir Vincentian yang didirikan oleh Pastor Paulus Hendrikus Janssen, CM di Madiun pada tanggal 17 Mei 1964. Oleh ALMA Br. Petrus disekolahkan untuk belajar penanganan anak cacat.

Menjadi seorang Pastor adalah keinganan terbesar Bruder Petrus, tetapi Tuhan memanggilnya untuk karya yang lain yaitu menjadi Seorang Bruder. Bruder Petrus menyebut dirinya sebagai seorang yang tersesat “tersesat dalam hal yang baik”. Menjadi seorang Bruder ternyata sangat menyenangkan, karena dapat melakukan pekerjaan dan pelayanan dengan fleksibel. Beliau juga berpegang teguh dengan prinsip dari orang tua beliau yaitu: Jujur, bertanggung jawab, dan berelasi.  Jujur dalam segala hal, bertanggungjawab dalam melaksanakan semua tugas dan pelayanan, serta memiliki relasi yang baik dengan banyak orang dari berbagai kalangan.

br. Petrus.jpg

Foto: Br. Petrus bersama salah satu lansia luar yang di layani 

Bruder Petrus ditugaskan pertama kali oleh ALMA di Cilincing untuk menangani rumah untuk anak-anak cacat dan orang-orang miskin. Selama sebelas tahun Buder melayani sebagai Bruder ALMA di Paroki Cilincing. Pada tahun 2008 Bruder Petrus diminta keluar (diusir dalam bahasa Bruder Petrus) dari tempat pelayanan pertamanya karena tuduhan melakukan sebuah kasus (tidak disebutkan). Beliau tidak dapat melanjutkan karya pelayanan di tempat itu. Hari kedua beliau keluar, beliau menangis menyesali tuduhan tersebut. Hari ketiga, Tuhan menunjukkan jalan dengan sangat luar biasa. Tuhan mengirim seorang ibu yang  baik. Dia meminta Bruder Petrus untuk menangani sebuah Klinik di Bali. Klinik tersebut baru di buka dan belum ada pasien sama sekali. Dalam pelayanannya Bruder Petrus di Klinik tersebut, beliau setiap hari berkeliling mencari orang miskin yang sakit untuk diobati di Klinik tersebut. Selang beberapa waktu Klinik tersebut menjadi ramai dan berkembang. Ada sekitar 80 sampai ratusan orang berobat ke klinik tersebut

Setelah setahun di Bali, datanglah Rm. Antonius Wahyuliana, CM meminta agar Bruder Petrus datang kembali ke Jakarta. Ajakan tersebut awalnya ditolak oleh Bruder Petrus. Karena pada masa itu Bruder Petrus sedang fokus pada penanganan Klinik di Bali. Tahun 2010 Bruder Petrus diminta lagi oleh Rm. Wahyuliana, CM untuk menangani sebuah karya pelayanan di Paroki Salib Suci, yaitu karya pelayanan Atmabrata. Atmabrata merupakan sebuah rumah karya pelayanan untuk orang miskin dan cacat. Setelah bergulat dengan tawaran tersebut akhirnya Bruder Petrus memutuskan untuk memilih melayani di rumah karya Atmabrata.

Setelah Atmabrata di tangani oleh Bruder Petrus, Atmabrata semakin berkembang, karya pelayanan semakin luas dan dikenal banyak orang hingga saat ini. Atmabrata yang pada awal mulanya hanya fokus pada pelayanan orang miskin dan orang cacat, kini semakin berkembang. Atmabrata fokus pada pelayanan Rumah Lansia, Penanganan Lansia Luar dan anak cacat, Pendidikan, Pelayanan Masyarakat, dan Balai. Ketika Romo Wahyuliana, CM pindah dari Paroki Salib Suci untuk melanjutkan pelayanan ditempat yang lain, banyak orang yang bertanya bagaimana dengan Bruder Petrus?

PETRUS 6.jpg
  • Facebook Social Icon
  • Instagram Social Icon
  • Google+ Social Icon
BERITA TERBARU

Foto: Bruder Petrus bersama Kardinal Soeharyo

Bruder Petrus kemudian menghadap Uskup Ignatius Suharyo bersama Romo Bani, CM, oleh Uskup diberikan nama Bruder Petrus Partono, PSS sebagai Direktur Atmabrata. Meskipun tidak tergabung dengan satu tarekat, tetapi bruder menghayati hidupnya sebagai seorang religius. Misa dan Ibadat Harian, hidup berkomunitas, pembaharuan Kaul setiap tahun (tanggal 8 september) di depan Pastor Paroki Cilincing. Dalam Kaulnya Bruder mengucapkan janji setia kepada Allah, Gereja dan terutama untuk pelayanan orang-orang miskin dengan semangat Vinsensian. Berkarya dalam pelayanan di rumah Atmabrata adalah hal yang sangat luar biasa bagi Bruder Petrus. Dari terbuang menjadi besar bersama rumah karya Atmabrata. Bruder Petrus mengungkapkan akan selalu berada di Atmabrata sampai nanti Atmabrata tidak membutuhkan beliau lagi. Karena Atmabrata merupakan rumah bagi Bruder Petrus.