SHARING PAUS FRASISKUS TENTANG HIDUP SEHARI-HARI BELIAU

 

 

Koran Argentina La voz del Pueblo (Suara Rakyat) mewawancari Paus Fransiskus. 

Inilah laporan dari Wartawan itu yang disarikan oleh Vatican Insider: Saya tidak pernah mimpi jadi Paus“Saya tidak pernah mimpi jadi Paus, tidak pernah! Atau juga menjadi Presiden Argentina atau Jendral angkatan bersenjata. Anak-anak biasanya mempunyai mimpi seperti itu. Saya tidak! Setelah diangkat menjadi pemimpin dalam beberapa posisi selama 15 tahun, termasuk menjadi provinsial Jesuit, akhirnya saya kembali lagi menjadi imam biasa dan bapa pengakuan. Sebagai seorang religius Jesuit kita berubah sesuai yang dibutuhkan oleh Gereja. 

Dalam arti sebagai kemungkinan, saya sudah papabilis waktu konklav sebelumnya... dan konklav yang terakhir ini saya sudah berumur 76 tahun dan banyak calon Paus lain yang tentu saja sangat pantas... Saya tidak pernah berfikir bahwa ada kardinal yang akan menyebut nama saya sebagai calon, tidak seorangpun...!

 

Umat baik bagi saya

Saya menyukai audiensi publik dalam pengertian manusiawi dan spiritual. Umat adalah baik bagi saya... Seolah-olah hidup saya terus berlangsung berkat interaksi dengan umat. Secara psikologis, saya tidak bisa hidup tanpa umat. Saya bukan seorang rahib. Itulah sebabnya saya memilih tinggal di rumah Santa Marta ini. Ini adalah rumah singgah yang mempunyai 120 kamar; kami penghuni tetap ada 40 orang di sini yang bekerja di Kepausan dan yang lain adalah para tamu: uskup, imam, awam yang singgah sementara. Hal itu sangat bermanfaat besar bagi saya. Datang ke ruang makan ini, di mana semua orang makan bersama, merayakan ekaristi di kapel, yang dihadiri juga oleh umat dari luar tembok Vatikan, dari paroki – paroki sekitar, empat kali seminggu...Saya sungguh menikmati ini. Saya menjadi imam sehingga saya bisa berada bersama umat.Saya bersyukur kepada Tuhan karena tidak membiarkan saya kehilangan kerinduan untuk 

berada bersama umat. 

 

Hal-hal yang hilang dari hidupku 

“Saya rindu bisa jalan-jalan dengan bebas dan pergi ke pizzeria (warung pizza) untuk makan pizza yang enak.  Ketika saya masih Cardinal, saya suka naik kereta api bawah tanah.  Saya menikmati suasana kota.  Saya ini darah daging anak kota. Saya tidak bisa hidup di pedesaan. Di Vatikan ini, saya bisa mengunjungi paroki, tetapi saya tidak bisa jalan-jalan.  Coba bayangkan kalau Paus keluar ke jalan!  Suatu hari saya coba keluar sendiri bersama sopir.  Dan saya lupa menutup kaca jendela mobil. 

Saya tidak memperhatikan bahwa jendela itu terbuka.  Umat melihat dan terjadilah kemacetan total.  Mobil kami dikerumuni umat yang mau bersalaman dengan Paus dan lalu lintas macet total.  Keadaan menjadi kacau dan petugas keamanan Vatikan serta Polisi Italia menjadi cemas akan  keselamatan Paus yang tidak ada pengawal.  Saya menjadi sadar, itulah akibatnya kalau melanggar protokol kepausan.  Saya minta maaf atas kesalahan saya itu dan sejak itu saya taat total pada aturan Vatikan.

 

 

Tidur

Saya ini cepat tertidur begitu kepala saya menyentuh bantal. Saya cepat padam seperti lampu. Saya tidur 6 jam. Saya biasanya masuk kamar tidur jam 21.00 dan membaca sampai jam 22.00. Sekarang ini saya sedang membaca buku St. Silouan the Antonite, seorang  guru rohani yang 

besar. Ketika salah satu mata saya mulai berair, saya matikan lampu dan saya tidur sampai jam 4 pagi. Pada jam itu saya terbangun dengan sendirinya tanpa alarm, karena “jam tubuh” saya sudah membangunkan saya.

 

Menangis

Saya menangis jika melihat penderitaan manusia. Contohnya, ketika saya menyaksikan para pengungsi Rohingnya yang terapung – apung di laut Thailand, dan ketika mereka bisa merapat, mereka diberi minum dan kemudian diusir lagi ke tengah laut. Tragedi itu membuat saya menangis. Juga bila saya melihat anak – anak menderita penyakit langka, sebagai akibat dari pencemaran 

lingkungan, perut saya merasa mual.Jika saya melihat anak – anak itu saya bertanya kepada Tuhan: Mengapa mereka dan bukan 

saya ya Tuhan? Saya juga sedih kalau mengunjungi penjara. Saya pergi ke Penjara Rebibbia pada hari Kamis Putih. Saya juga mengunjungi penjara – penjara di kota Italia lainnya. Saya makan bersama narapidana dan ketika berbicara dengan mereka, pikiran ini muncul di benakku: Aku pun bisa masuk di sini. Tidak seorang pun dari kita bisa merasa pasti bahwa tidak akan melakukan suatu kejahatan yang membuat kita dipenjara. Sehingga saya bertanya kepada Tuhan: mengapa Tuhan tidak membuat saya juga dimasukkan ke dalam penjara? Saya merasa sedih karena mereka. Saya bersyukur bahwa saya tidak ada di sana dan kadang – kadang saya merasa bahwa rasa syukur ini saya nikmati hanya karena mereka tidak memiliki kesempatan seperti yang telah saya alami. Hal ini membuat hati saya menangis. Saya sungguh menangis secara pribadi... saya tidak menangis di depan publik.

 

Takut sakit? 

Pada umumnya saya tidak takut. Saya ini ceroboh, bertindak tanpa memikirkan konsekuensinya. Kadang – kadang saya merasa sakit kepala karena saya telah berbicara terlalu banyak. Kalau sakit itu menyerang, saya ada di dalam tangan Tuhan; Saya berbicara kepada Tuhan dalam doa – doa saya dan saya katakan kepada-Nya: Tuhan... biarlah apa yang akan terjadi, terjadi saja, saya hanya mohon berkat-Mu, jangan buat saya menderita. Karena saya ini penakut menanggung sakit secara fisik. Penderitaan moral dapat saya tanggung, tapi fisik tidak. 

Saya takut sakit secara fisik bukan dalam arti saya takut jarum suntik, melainkan saya ingin tidak punya banyak masalah dengan sakit fisik. Saya tidak bisa toleransi dalam hal ini, mungkin karena akibat dari operasi paru – paru yang saya alami ketika saya umur 19 tahun dulu.

Alamat

Jl. Raya Tugu 12, RT 003/014, Semper, Koja, Jakarta 14260

Follow Us

  • Facebook Reflection
  • Twitter Reflection
  • YouTube Social  Icon

Telp. (021) 440-5740

Fax. (021) 440-0769

© 2015 by KOMSOS PSS CILINCING